Mengenal Kehamilan Postmatur dan Risikonya pada Bayi

kehamilan postmatur

Frasa “kehamilan prematur” mungkin bukan istilah yang asing bagi banyak orang. Sebaliknya, “kehamilan postmatur” belum dikenal cukup luas oleh masyarakat.

Padahal, istilah ini juga penting untuk diketahui ibu hamil, lho. Yuk, cari tahu lebih lanjut tentang kehamilan postmatur dan risikonya pada bayi.

Apa itu kehamilan postmatur?

Kehamilan postmatur adalah kondisi kehamilan yang sudah melebihi usia kandungan normal, yaitu 42 minggu (294 hari), terhitung sejak hari pertama haid terakhir (HPHT). Mengutip dari laman Hello Sehat, hingga saat ini belum diketahui penyebab pasti kehamilan postmatur.

Akan tetapi, salah satu faktor risiko paling umum adalah kekeliruan dalam mengingat tanggal HPHT. Sebab, tanggal HPHT merupakan tanggal yang dijadikan acuan dokter spesialis kandungan untuk memperkirakan tanggal persalinan.

Faktor risiko lainnya, menurut Baby Injury Guide, adalah:

  • Obesitas saat hamil
  • Memiliki riwayat kehamilan postmatur
  • Defisiensi sulfat pada plasenta (kelainan genetik yang sangat jarang)
  • Kelainan sistem saraf pusat
  • Anensefali

Risiko kehamilan postmatur pada bayi

Mengingat kehamilan sudah melebihi bulan atau waktunya, bayi yang masih berada dalam kandungan berpotensi mengalami risiko komplikasi, seperti:

  • Makrosomia janin. Ini merujuk pada kondisi bayi yang berukuran besar, yaitu lebih dari 4.000 gram, ketika dilahirkan. Kondisi bayi yang jauh lebih besar dari normal ini mungkin menimbulkan masalah saat persalinan, seperti proses persalinan yang lebih lama, risiko distosia bahu bayi, ataupun asfiksia (tercekik karena kekurangan oksigen). Makrosomia janin juga sering dihubungkan sebagai faktor risiko penyakit kuning, diabetes, obesitas, dan sindrom metabolik lainnya pada anak.
  • Insufisia plasenta. Ini merujuk pada kondisi ketika plasenta tidak bisa lagi mencukupi kebutuhan oksigen dan nutrisi bagi janin. Pasalnya, plasenta mencapai ukuran maksimal pada usia kehamilan 37 minggu dan akan menyusut serta mengalami penurunan fungsi setelah kehamilan memasuki usia 41 minggu. Akibatnya adalah peningkatan risiko gangguan kesehatan bagi janin, seperti cerebral palsy dan gangguan tumbuh kembang.
  • Aspirasi mekonium. Ini merujuk pada kondisi saat janin baru lahir menghirup air ketuban yang bercampur feses pertamanya (mekonium) dalam kandungan. Mekonium yang terhirup bayi dapat menyebabkan janin kekurangan oksigen dan menginfeksi paru-parunya. Meski ini jarang terjadi, aspirasi mekonium dinilai dapat meningkatkan risiko kerusakan otak permanen dan hipertensi paru persisten pada bayi baru lahir.

Nah, itulah dia penjelasan mengenai kehamilan postmatur dan risikonya bagi bayi. Untuk menghindari kondisi ini, ibu hamil perlu melakukan pemeriksaan kandungan rutin pada dokter spesialis kandungan sejak trimester pertama.

Selain berkonsultasi, ibu hamil juga sebaiknya melakukan USG teratur untuk mengetahui perkembangan janin dan usianya dengan lebih akurat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *